Hikayat Noah
Oleh: Kiel Fansuri
Buku sakral berkisah: di antara punuk Ararat, selangkah tabu arah Turki, Sekoci dewa karam berhenti di selangkang kolong nirwana.
Selalu bersedih, Noah terpanggil, serupa hikayat tablet paku Mesopotamia, satu kisah, berbeda dewa, meski siksa hobi bersama, sang kasih menghapus dosa, menghapus nyawa.
Liang awan menjadi saksi. Bila air menelan bumi, gurun tandus hanya imaji; kebun Noah hayalan semata, makanan ringan budak sabda, bila hati terbuka mati, budak sabda mencari bukti, bila dewa berharap puja, kebohongan solusinya.
Aceh, 22 Januari 2026
Sumber Ilustrasi:
___
Bionarasi:
Kiel Fansuri, kelahiran Cikampak, 29 Agustus 2003. Saat ini tinggal dan bekerja di Babussalam Lembah Alas, Aceh Tenggara. Pernah beberapa kali mendapatkan gelar juara saat kompetensi puisi antar sekolah tingkat kecamatan saat menjadi pelajar di SD swasta Grahadura Leidong Prima Kabupaten Labuhan Batu Utara Provinsi Sumatera Utara.
Bergabung di kelas Asqa Imagination School (AIS) #61 mulai bulan Agustus 2025. Puisinya dimuat di beberapa antologi. IG: @yehezkiels1h0mb1n9


Tidak ada komentar:
Posting Komentar