Kekaisaran Porselen Hancur

 


Oleh: Amalia Ramadanti 


Aku adalah rusuk bengkok, dicuri darimu yang sedang terlelap.

Di taman Eden aku merayumu, menyeretmu ke dasar dunia sebagai teman seperhukuman.

Jadi buron yang menyelundup ke dalam rahim besi bernama Titanic, di mana Tuhan sedang bergurau dengan gunung es.

Persetan dengan apel, kita lebih memilih mengunyah kabel tembaga korslet.


Kita mendekap api dari ruang mesin, menelan panas seperti kutukan.

Saat lambung kapal koyak, itu adalah orgasme logam.

Sebuah penetrasi es paling brutal pada keangkuhan manusia.

Cinta kita bukan drama geladak miring menunggu tenggelam, tapi pertukaran hasrat serupa merkuri dan karat.


Jauh di bawah tekanan atmosfer, bahkan cahaya pun takut untuk turun.

Kisah kita berinkubasi dalam dingin yang absolut.

Kamu adalah Adam yang menolak sejarah, dan aku adalah Hawa yang gemar merokok asap cerobong kapal sekarat.


Kita tak butuh surga wangi kasturi.

Membangun kekaisaran dari sisa porselen yang hancur,

dan tulang belulang yang membeku.

Kita adalah mutasi genetik dari sebuah tragedi,

sebuah kesalahan sistem yang menolak untuk dihapus oleh kepahitan.

Sebab bagi kita, cinta yang paling liar adalah ketika saling memangsa di dasar gelap.

Dan tetap merasa kenyang meski dunia sudah lama karam.


Taman Rancah Indah, 15 Januari 2026


Sumber Ilustrasi:

__

Bionarasi:

Amalia Ramadanti merupakan penulis asal Pemalang yang meyakini bahwa puisi adalah potret realitas yang paling jujur. Sejak memulai debutnya pada 2022, karya-karyanya telah dimuat dalam berbagai antologi seperti Akar Serumpun, Anyaman Rasa, dan Sahabat Sepanjang Masa, serta dipublikasikan di kanal digital Tirastimes dan Sepenuhnya.com.

Di sela kesibukannya sebagai seorang ibu, ia terus mengasah kemampuan olah sajaknya melalui Asqa Imagination School dan komunitas COMPETER Indonesia. Saat ini, Amalia aktif berbagi sapa dan karya melalui Instagram: @aamaiyaaaa.

Related Post

1 komentar:

Cari Artikel