Air
Oleh: Eni Widyawati
Fajar belum genap memeluk bumi,
ketika langkah-langkah sunyi mengetuk gerbang pinggiran.
Merekalah para penjaga pelita bermata telaga,
basuh lara anak-anak beransel kusam.
Saat ayah-bunda terasing dalam buru-buru takdir fajar,
tangan-tangan tulus ini menjelma pelukan muara,
menyeduh kasih yang sempat membeku di rumah.
Mereka adalah air yang berjalan tanpa alas kaki.
Tahu benar anak-anak itu adalah tanah gersang yang retak,
yang nyaris mati layu sebelum sempat memucuk.
Tak datang mereka membawa gemuruh badai atau amarah, namun menyelinap lembut bak air mata embun, merembes, sembuhkan impian patah dan mengering.
Air tak pernah sudi memilih wadah,
menolak takzim pada cawan-cawan emas mewah.
Begitulah perawat jiwa di sudut bumi terlupa,
mengalir pasrah menyentuh kaki-kaki telanjang nan tangguh.
Mereka menyelami palung kemiskinan yang menjerat langkah,
menjadi oase sejuk saat dunia di luar membakar harapan.
Maliran Blitar, 5 Juni 2026
Sumber Ilustrasi:
___
Bionarasi:
Eni Widyawati, kelahiran Blitar, 28 Juli 1973. Dia menulis puisi sejak tahun 2006. Puisi-puisinya sering menghiasi pojok-pojok media massa seperti puisi; Daffodill, Ibuku Keramatku, Semilir Desaku Lambungkan Anganku, Terikat Rasa, dll. Ia juga menulis buku solo puisi bertajuk Jejak-jejak Pengabdian; Puisi seorang guru dalam merangkai pengabdian, Dari Ruang Kelas ke Lembar Cerita. Dan puisi-puisi yang terangkum dalam antologi: Guru Pandemi Lahirkan Inovasi, Senandung Merdeka Sang Pendidik Bangsa, Singgah Sebentar, Cinta Pertama, Kau Yang Selalu Dalam Do'aku,Tarian Pena Para Dwija Penataran, Seruling Rindu, Simphony Sunyi Di Bawah Langit Persahabatan, Satu Bait Satu Cahaya Untuk Negeri dan Bunga Rampai Kelas Sunyi. Kini aktif menulis puisi di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS) #69.IG: @eni.widyawati.31105

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar