Bara Api Segregasi
Oleh: Wahyu Tanoto
Beton-beton mengepung, malam kehilangan ketenteraman.
Siluet alat berat melesat dari balik reruntuh bangunan.
Tak ada lagi damba keselarasan hidup,
hanya lumut prasangka dan bara api segregasi
merawat dendam yang abadi.
Aku disergap dentang kematian kerukunan,
terbakar hangus dalam bentrokan golongan,
lari tak tentu arah mencari jaminan perlindungan.
Api kekerasan berkobar menghangus pakaian adat,
menghancurkan tangan penenun dan kain ikat di pangkuan.
Sambil berlari aku menjerit memekik keadilan,
tapi lolongan rasisme membuat sekitarku tuli.
Kehancuran adat dan penggusuran lahan yang memilu
membuat mata dan telinga batin terpecah,
meninggalkan perih yang membebani.
Yogyakarta, 21/06/2026
Sumber Ilustrasi:
___
Bionarasi:
Wahyu Tanoto, penulis dan editor lepas kelahiran Banjarnegara, 28 April, kini mukim di Bantul, Yogyakarta. Beberapa kali menjuarai lomba cipta puisi dan cerita anak. Puisi-puisinya terbit dalam antologi (2025): Akar Serumpun Anyaman Rasa, Tanah Basah, Ziarah Hati, Mawar untuk Palestina, dan Melawan Patriarki. Sapa ia di IG: @yutanbantul.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar