Gula



Oleh: Setiabasa 


Gula itu lumat di atas lidah,

manisnya menjalar, membasuh resah

Namun rasa tak pernah tinggal diam,

ia merambat, mencari ruang yang kelam


Lalu larik-larik itu menjadi lagu,

mengalun lirih di antara ragu

Ia mengeja sunyi, memecah beku,

menggiring detak yang sempat terpaku


Di luar sana, gaul menjelma zaman,

tempat rindu dan bising membaur

Bibir-bibir panen kata, telinga gagal berlabuh,

detik-detik menggigit tumit

hingga jejak lupa berteduh


Ada yang melangkah tenang, ada yang ugal,

menghamburkan hari tanpa bekal

Namun di penghujung senja, semua kembali sama


Rintis, 12 Juli 2026


Sumber Ilustrasi:

___

Bionarasi: 
Setiabasa, seorang ibu rumah tangga, ibu dua orang putra dan nenek sepasang cucu. Menyukai membaca sejak kecil. Fiksi, non-fiksi dan juga puisi. Sejak akhir 2022 mengikuti beberapa kelas online: Uti, Asqa Imagination School (AIS), Ruang Kata, Symprerifora dll, untuk belajar menulis puisi dan karyanya sudah masuk dalam beberapa buku antologi puisi. Ia sedang mengikuti kelas puisi AIS#68. IG: @setia.xu

Related Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Artikel