Mulut Keramik

 


Oleh: Eni Widyawati


Singgasana dingin jemput ritual paling jujur,

tempat takhta para raja seketika jatuh gugur.

Di atas lubang pualam beku tanpa kata,

manusia melepas paksa segala beban rupa-rupa.


Kaca buram terkekeh tatap wajah mengedan,

saksikan netra merem-melek cari kedamaian.

Keran air bersenandung sumbang tertawakan sepi, 

basuh ampas perjuangan di penghujung hari.


Engsel besi berdecit menahan benteng rahasia, 

menyergap badai aroma agar tak runtuh dunia.

Di balik sekat ini hancur sudah sekat kasta,

presiden dan kuli tunduk pada mules yang sama.


Bilik pengabdian tabah menelan duka-lara, 

merawat sisa perut hingga napas kembali lega.

Keluar pintu melangkah dengan senyum tak berdosa,

tinggalkan beban hidup yang menguap ke udara.


Malibli, 7 Agustus 2026


Sumber Ilustrasi:

___

Bionarasi:

Eni Widyawati, kelahiran Blitar, 28 Juli 1973. Dia menulis puisi sejak tahun 2006. Puisi-puisinya sering menghiasi pojok-pojok media massa seperti puisi; Daffodill, Ibuku Keramatku, Semilir Desaku Lambungkan Anganku, Terikat Rasa, dll. Ia juga menulis buku solo puisi bertajuk Jejak-jejak Pengabdian; Puisi seorang guru dalam merangkai pengabdian, Dari Ruang Kelas ke Lembar Cerita. Dan puisi-puisi yang  terangkum dalam antologi: Guru Pandemi Lahirkan Inovasi, Senandung Merdeka Sang Pendidik Bangsa, Singgah Sebentar, Cinta Pertama, Kau Yang Selalu Dalam Do'aku,Tarian Pena Para Dwija Penataran, Seruling Rindu,  Simphony Sunyi Di Bawah Langit Persahabatan,  Satu Bait Satu Cahaya Untuk Negeri dan Bunga Rampai Kelas Sunyi. Kini aktif menulis puisi di kelas puisi Asqa Imagination School (AIS) #69 IG: @eni.widyawati.31105

Related Post

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Artikel